Nasi Padang: Sejarah, kalori, dan semua hal yang perlu Anda ketahui

Mengapa disebut “Nasi Padang”?

Nasi Padang adalah sebutan bagi makanan khas Minangkabau, dibeli di restoran khusus yang biasanya dimiliki dan dikelola oleh orang Minangkabau. Restoran seperti ini dikenal dengan nama Rumah Makan Padang.

“Rumah makan Padang” sebenarnya merupakan penamaan kontemporer bagi restoran Minangkabau yang mulai populer pada akhir 1960-an.

Penyebutan “Padang” adalah bagian dari perubahan identitas yang dilakukan oleh orang Minangkabau saat itu, menyusul pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat.

Setelah pemberontakan PRRI resmi berakhir pada 1961, pemerintah pusat berusaha menghabisi semua elemen PRRI. Akibatnya, terjadi eksodus besar-besaran suku Minangkabau ke daerah lain, termasuk ke Pulau Jawa.

“Orang Padang setelah [peristiwa] PRRI disuruh melapor, disuruh ini, dibilang orang kalah, dihina-hina, jadi tahanan di daerah sendiri. Akhirnya pada keluar mereka itu,” kata Profesor Gusti Asnan, sejarawan Minangkabau di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.

Menurut Gusti, tindakan keras dan cenderung menindas dari pemerintah pusat waktu itu mendorong orang Minangkabau di perantauan berusaha mengganti identitas mereka dengan berbagai cara.

Dua yang paling mencolok ialah mengganti nama etnik dari Minangkabau menjadi Padang, serta mengganti nama diri dari khas Minangkabau menjadi kejawa-jawaan.

Sebelumnya, sebutan lazim bagi tempat makan yang menjual masakan khas Minangkabau adalah “lapau nasi”, “kedai nasi”, “los lambuang”, atau “karan”.

Asal-usul rumah makan Padang atau lapau dapat ditelusuri hingga perempat kedua abad ke-19.

Waktu itu, Padang dijadikan ibu kota daerah administratif¬†Gouvernement van Sumatra’s Westkust¬†sekaligus dijadikan bagai pusat aktivitas ekonomi. Semua hasil bumi Sumatera Barat yang layak untuk dijual ke pasar mancanegara harus dibawa ke Padang, dan semua barang kebutuhan daerah harus didatangkan dari Padang.

Sarana transportasi yang populer saat itu adalah kuda beban dan pedati, dan karena kuda perlu istirahat, ruas jalan dibagi menjadi beberapa etape (tahap, perhentian). Dalam jalan dari Padang hingga Bukittinggi, misalnya, terdapat enam etape.